Tampilkan postingan dengan label MAHASISWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAHASISWA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2009

Mahasiswa VS Polisi

Kebijaksanaan politik terutama ekonomi-moneter yang berlangsung sejak tahun 1957 sampai tahun 2008 ini adalah rentetan pembusukan.untuk mencabut akar pembusukan berada di tangan Presiden bukan di tangan pejabat lainnya terutama bukan di tangan ekonom yang menjadi alat mati dan imitator dari pembuat kebijaksanaan ekonomi global yang berpusat di Amerika Serikat yang terlihat telah mulai dimusuhi oleh kekuatan maju di Amerika Serikat itu. Cara satu-satunya adalah di mana Presiden melakukan pembalikan menyeluruh dan mendasar.Jangan sekali-kali hanya mengerahkan Polri untuk menumpas gerakan mahasiswa oleh karena perbuatan ini pasti berujung kesia-siaan.
Presiden juga harus sangat jeli mencermati munculnya kekuatan tertentu yang mendukung gerakan mahasiswa. Bila pendukung ini baik dan telah memiliki disain cemerlang melakukan pembalikan maka malapetaka bangsa Indonesia akan berakhir dengan sangat baik dan ledakan mahasiswa versus Polri akan berakhir dan Polri menjadi kekuatan yang sangat dicintai mahasiswa dan seluruh warga Indonesia. Bila Presiden gagal melakukan pembalikan dan meneruskan cara-cara Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnaputri, dan Yudhoyono, maka malapetaka besar bangsa Indonesia, melapetaka keruntuhan Presiden, serta malapetaka ledakan mahasiswa versus Polri akan terus berulang.

Selasa, 29 Desember 2009

Perspektif Lembaga Kemahasiswaan

NASIB LEMBAGA KEMAHASISWAAN di UMC Mendung Pada Sore itu begitu gelap! Kemungkinan akan turun hujan paling tidak Gerimis.Kondisi demikian akan menghambat siapapun untuk melakukan aktivitas. Akan tetapi sekumpulan Mahasiswa dengan semangatnya terus berdebat dengan wacana-wacana kontemporer dari soal Korupsi yang sudah mendarah daging dalam setiap perilaku masyarakat Indonesia dari yang paling kecil sampai dengan yang paling Luar Biasa, bahkan soal Re-Generasi lembaga kemahasiswaan di kampus pun tidak luput dari alam bawah sadar mahasiswa yang sedang “terbius” oleh Idealisme itu. Pemandangan diatas merupakan kewajaran yang Include dengan Aktivitas mahasiswa, karena Dunia Mahasiswa penuh dengan segudang Idealisme terutama mahasiswa strata 1 (S1). Mereka memeiliki kesempatan untuk memikirkan kondisi dan situasi (SIKON) bangsa dan Negara. Seorang Kawan yang sudah alumni” kesempatan untuk memikirkan SIKON bangsa dan Negara hanya ada pada saat menjadi mahasiswa (menempuh S1) selebihnya Idealisme itu didominasi oleh urusan Dapur,konon mahasiswa S2 dan S3 pun susah (Bila tidak mau dikatakan tidak bisa) untuk “bermain-main” dengan Idealismenya. Lembaga dalam Konteks Idealisme ada pada posisi yang strategis untuk suksesnya berbagai tujuan. Tentu saja harapan itu harus didukung dinamisnya lembaga itu sendiri. Orang atau yang biasa disebut pengurus bagi yang mengurus Eksistensinya suatu lembaga memiliki peranan yang signifikan untuk dikatakan bahwa organisasi itu eksis atau tidak. Membangun suatu bangunan (Organisasi) adalah realita yang tidak gampang,dan akan sangat tidak gampang untuk memeliharanya. Berdiri dan Tumbangnya Lembaga Kemahasiswaan di kampus menjadi hal yang umum, suatu ketika Prof.DR.Khaerul Wahidin M.Ag (Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon) berpesan kepada penulis “mohon kepada BEM UMC untuk memikirkan Kecenderungan Mahasiswa UMC yang tidak peduli dengan Organisasi” Rupanya apa yang kami rasakan juga dirasakan oleh pimpinan Universitas.lalu bagaimana dengan mahasiswa lainnya? Apakah mereka masih tetap “Cuek-bebek” dengan segala aktivitas kemahasiswaan?apakah ada hal yang salah dalam Kaderisasi yang telah dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan ataukah apa...? Banyak cara yang telah kami lakukan untuk menarik minat mahasiswa berorganisasi, namun ternyata hasilnya jauh dari apa yang diharapkan. Banyak Lembaga Kemahasiswaan dikampus UMC yang “ Mati Suri” hidup segan Mati tak mau, yang diakibatkan terhambatnya Kaderisasi dan semakin lemahnya semangat kita untuk berorganisasi.

Solusi Krisis Kepercayaan Masyarakat Terhadap Organisasi Pergerakan Mahasiswa

Pergerakan Mahasiswa dalam sebuah wadah, merupakan symbol mediator atau fasilitator yang riil dengan adanya gerakan yang bersifat Action, sehingga gerakan itu tidak terbatas pada tataran wacana saja. Implementasi dari sebuah wacana yang di eksplorkan kedalam sebuah tindakan yang sesuai dengan keinnginan masyarakat akan menimbulkan kesinambungan Paradigma Masyarakat kearah yang lebih baik. Wadah dari pergerakan mahasiswa juga sebagai wahana ide-ide kreatif mahasiswa yang bertujuan untuk kepentingan masyarakat yang bersifat Sosialis, Agamis, maupun Nasionalis. Jadi, Substansi dari pergerakan berkiblat pada nilai kebenaran dan keadilan (antara hak dan bathil), tetapi substansi tersebut akan luntur ketika pergerakan tersebut sudah ternodai oleh Normatif kebebasan dan kebiasaan buruk oknum-oknum aktivis tanpa mengindahkan historis perjuangan wadah pergerakan, serta tidak patuh terhadap aturan organisasi (AD/ART), dan yang lebih Ironi adalah ketika perjuangan tersebut telah di Iming-imingi oleh hal-hal yang bersifat Materi. Wadah pergerakan dapat menelurkan kader – kader pergerakan yang sering didengungkan masyarakat sebagai mobilisasi gerakan perubahan dengan gaya bahasa yang dikemas secara Edukatif yaitu aktivis mahasiswa / aktivis Intelektual. Namun realitas yang ada, bahwa hari ini gerakan mahasiswa sudah membumingkan Image yang kurang baik, yang telah dikotori oleh oknum – oknum aktivis Instant dalam kesungguhannya untuk berkiprah ataupun keberpihakan pada rakyat. Aktivis apabila sudah berkecimpung kedalam kancah Politik praktis, maka bukan sifat Idealisme / golongan, dan tidak hal yang tabu, ketika oknum aktivis menjual Institusi/Organisasi yang Ia geluti dan bahkan harga dirinya kepada pengusaha, sehingga berdampak krisis kepercayaan pada masyarakat. Dari uraian diatas, perlu kita kritisi bahwa bagaimana Image yang telah mengakar pada masyarakat itu, bias kita rehabilitasi kembali yang notabenenya adalah sumber daya manusia itu sendiri yaitu subyek penggerak/Promotor dan Manajemnnya. Pemulihan ataupun pembenahan image yang sudah berkarat tidak semudah membalikan telapak tangan karena memerlukan waktu dan tenaga yang ekstra tinggi. Dengan kata lain bahwa apabila ingin mewarnai dinamika perubahan dan pembangkit masa kejayaan pergerakan mahasiswa era 60-an, yaitu salah satunya totalitas serta komitmen dan satu persepsi tanpa adanya sesuatu hal (Rekayasa) yang bersifat Hedonis, ataupun memiliki penyakit Kronis ( akut) masyarakat/keberpihakan pada penguasa. Pergerakan mahasiswa hari ini telah terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan Individualisme atau golongan, mengakibatkan tujuan dan apa yang diharapkan dari masyarakat Bias tanpa bermakna. Mengapa gerakan mahasiswa hari ini menjadi bias dan kurangnya Powerisasi untuk mengaspirasikan apa yang kita harapkan? Karena gerakan mahasiswa lebih mementingkan egoisme disbanding kebersamaan artinya hari ini masih terkotak-kotak tidak adanya rasa kebersamaan atau merapatkan barisan. Analoginya adalah apabila Power of Change dapat membumingkan pada birokrasi pemerintah yang tidak konsisten terhadap Rakyatnya. Untuk itulah persoalan-persoalanyang terjadi pada gerakan mahasiswa harus kita ubah supaya kejayaan gerakan mahasiswa di era 60-an.80-an dan 98 dapat kita raih kembali, SEMOGA.

Gerakan Mahasiswa

Gerakan MAHASISWA Kampus sebagai perwujudan dari kaum atau masyarakat Intelektual setiap hari selalu bertaburan dengan wacana-wacana atau isu-isu yang hangat atau lama, dimarkas para calon Cendekiawan ini setiap saat suara berhamburan dari mulut-mulut yang kritis terhadap keadaan. Mereka menghendaki keadaan yang lebih baik, keadilan, Transparansi, kesejahteraan, dan lain-lain. Mereka berdiskusi dikantin, dikelas atau pada saat pelatihan-pelatihan atau dimanapun, bayangkanlah apabila mereka tidak kritis, tidak peduli terhadap kondisi bangsa saat ini atau tidak mengetahui tentang apapun terhadap situasi yang sedang berkembang menjadi apakah bangsa kita ini kelak?
Gerakan Mahasiswa harus mampu berkayuh diantara gelombang panjang dan gelombang pendek agar gelombang panjang tetap terkejar dan gelombang pendek tidak cukup kuat untuk menghancurkan perahu gerakan kita yang rapuh. Satu sisi, Gerakan Mahasiswa harus memfokuskan perjuangan pada upaya kritisisme dan resistensi terhadap kebijakan pemerintah yang anti rakyat, disisi lain Gerakan mahasiswa tetap harus mewaspadai Penetrasi Neo-Liberalism yang membahayakan masa depan Bangsa Indonesia. Gerakan mahasiswa selalu ragu dan senantiasa tidak yakin atas kemampuannya dalam membentuk aliansi Taktis-Strategis dalam melakukan penyikapan atas kondisi kebangsaan.Padahal, sejarah telah mengajarkan pada kita bahwa kemerdekaan hanya bisa direbut setelah adanya kesepahaman, penyatuan komitmen dan ketetapan hati kaum muda Nusantara yang mewujud dalam Sumpah Pemuda ’28 dan Revolusi Agustus ’45. Maka Gerakan Mahasiswa jangan hanya mampu melakukan Kritik situasi tapi juga harus melakukan Kritik sejarah, Memahami Posisi, dan mampu mengukur kekuatan yang mereka miliki, sehingga mampu memformulasikan Strategi dan Taktik serta focus gerakan yang bisa di Aplikasikan secara Efektif.
F A K T A (FORUM MAHASISWA KAJIAN STRATEGIS dan AKSI)Cirebon