Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2010

ESENSI kepustakaan

Kita boleh tidak sepakat tentang apa sebenarnya esensi pendidikan, akan tetapi dalam perspektif keperpustakaan esensi pendidikan adalah membaca, dalam arti sebuah proses pendidikan dikatakan berhasil apabila menciptaka murid-murid yang rajin membaca. Apabila sebuah lembaga pendidikan tidak menganggap penting masalah minat dan kegemaran membaca , bisa dipastikan akan mengalami kegagalan. Sebuah pepatah yang sering kita dengar akan tetapi sering pula diingkari adalah “buku gudang ilmu dan membaca adalah kunci.” . Sekarang ini banyak lembaga pendidikan yang kehilangan “kunci’ tersebut, dan konsekuensinya adalah banyak alumninya yang tidak berilmu. Dalam istilah sunda disebut dengan “cul dog-dog tinggal igel”, artinya untuk menggambarkan sebuah perbuatan atau proses yang kehilangan esensi, hanya formalitas belaka. Penulis memiliki sebuah “formula pendidikan” sederhana seperti berikut: Sekolah-gemar membaca = bermasalah (dibaca, bersekolah akan tetapi tidak memiliki kegemaran membaca akan menghasilkan lulusan yang bermasalah; gemar membaca + (-sekolah) = berhasil; (-sekolah) + (-gemar membaca) =gagal; Sekolah + gemar membaca = sukses

Rabu, 20 Januari 2010

PENDIDIKAN dalam KRITIK

Tradisi kritik yang tangguh itu kini luntur atau bahkan lenyap. Indikasinya, semakin deras kritik dilontarkan atas suatu kebijakan pendidikan, semakin keukeuh kebijakan dipertahankan. Indikasi ini memiliki dua dimensi. Sikap pembuat kebijakan yang amat kenyal semakin sulit ditembus karena pisau kritik yang tumpul.

Kunci efektivitas kritik adalah campuran verbalitas, frekuensi kritik, dan rasionalitas substansi. Selain itu perlu disadari, ranah se-publik pendidikan adalah ekosistem aneka kepentingan. Implikasinya, tiap kebijakan dan praktik pendidikan pasti bermuatan politis. Kritik pendidikan yang efektif mengandaikan terbukanya ruang kompromi. Sudahkah ini terperhatikan?

Dua hal

Ada dua hal yang mendesakkan kebutuhan akan kritik(us) pendidikan yang tangguh. Pertama, akar krisis pendidikan Indonesia (Kompas online, 21/8/2009) bukan hanya hilangnya political will pemerintah untuk melindungi rakyat dari neoliberalisme, tetapi juga absennya kontrol atas kebijakan melalui kritik tajam dan terukur.

Kedua, jajak pendapat Kompas (24/8/2009) menunjukkan, pemerintahan nanti cenderung sulit dikontrol karena kuatnya koalisi partai dan lemahnya pengawasan. Hal ini mencuatkan penguatan civil society. Bersama elemen masyarakat (mahasiswa dan LSM), kritikus pendidikan ditantang menjalankan fungsi penyeimbang kebijakan publik.

Otokritik

Selama ini kritik pendidikan cenderung menyorot pemerintah secara bias. Pemerintah menjadi faktor sentral pembuatan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan. Namun, mustahil jika kisruh pendidikan seluruhnya bersumber pada pemerintah.

Pemerintah yang mana? Dalam anggaran pendidikan, pemerintah pusat dan daerah senapas desentralisasi dan otonomi. Ujian nasional adalah kebijakan pusat, tetapi juga harus disebut Badan Standar Nasional Pendidikan dan mungkin dinas pendidikan di daerah.

Sertifikasi guru diatur pemerintah pusat. Namun, dalam beberapa kasus, seperti terlihat pada surat pembaca, kepala sekolah bertindak sebagai ”pemerintah”, meramaikan proses sertifikasi.

Kedua, kritik sering mengabaikan karakter politis pendidikan sebagai ekosistem aneka kepentingan. Dalam hal Ujian Nasional dan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, ada arah untuk menolak tanpa kompromi. Artinya, sementara mengkritik paradigma kekuasaan, penolakan tanpa kompromi menunjukkan hal yang sama. Perspektifnya win-lost alih-alih win-win.

Keringnya sajian dan kajian data membuat kritik gagal membangun rasionalitas argumen yang, meski politis, berpijak pada kadar obyektivitas tertentu.

Membangun Tradisi

Tradisi kritik harus dikembangkan dan kritikus disiapkan. David J Flinders dan Elliot W Eisner (2000) menyebut kritik pendidikan sebagai ”pendekatan yang menghidupkan keragaman dan aneka peluang belajar dalam interaksi dalam ruang kelas”. Sementara itu, Mary Stokrocki (1991) mengurai sebagai a research process of describing, analyzing, interpreting, and evaluating an everyday school activity in order to understand it more fully.

Pemahaman ini cukup untuk keperluan assessment pengajaran, tetapi belum mengakomodasi konsep kritik dalam konteks hubungan warga dan negara. Maka, tumbuhnya tradisi kritik belum dapat diharapkan melalui cabang ilmu pendidikan seperti evaluasi maupun kebijakan pendidikan.

Meski demikian, cara struktural tetap dapat ditempuh, misalnya melalui komponen analisis sosial dalam pengajaran. Juga, diperlukan pengenalan lebih luas teks-teks kuliah yang berperspektif filsafati dan historis.
Lembaga penelitian pendidikan perlu dikembangkan sebagai think tank. Bagian litbang media massa dan media kampus digiatkan sebagai penyedia data dan kajian agar berita-berita pendidikan lebih kritis. Berbagai organisasi guru adalah buah reformasi bertumbuhnya kesadaran politik tentang aneka masalah pendidikan.

Kesediaan melakukan otokritik merupakan kunci berkembangnya kritik pendidikan tangguh sebagaimana dilakukan Ki Hadjar Dewantara dan YB Mangunwijaya.

TEKNIK INDUSTRI

Teknik Industri (Industrial Engineering) merupakan bagian ilmu teknik yang menggabungkan beberapa disiplin ilmu dengan penekanan pada kaitan ilmu keteknikan dan ilmu manajemen.Sebagai ilmu keteknikan (rekayasa) pendekatan Teknik Industri pada disain, analisis, rancang bangun, dan perbaikan sistem integral yang terdiri atas manusia – mesin/peralatan, bahan, energi, dan informasi.

Sarjana Teknik Industri selalu berfikir sistematik untuk mengupayakan sistem yang lebih baik, hal ini menjadi acuan tujuan pendidikan Teknik Industri dalam membentuk sarjana yang mampu:

* Mengidentifikasi permasalahan dan mencari alternatif pemecahan terbaik

* Merancang, menginstalasi dan memperbaiki sistem integral manufaktur

Penguasaan teknologi informasi, manajemen dan wirausaha yangh mengarah pada pembentukan jiwa inovatif, sikap profesional dan berwawasan global.

Jumat, 15 Januari 2010

USB ( Unit Sekolah Baru ) di Kabupaten CIREBON

FAKTA (Forum Mahasiswa Kajian Strategis dan Aksi) Cirebon dalam kajian khusus kali ini tentang Unit Sekolah Baru seperti di Kabupaten Cirebon yang mendapat bantuan dari departemen pendidikan nasional melalui direktorat pendidikan dasar dan menengah yaitu pembangunan unit sekolah baru dengan nama Blok Grant dengan mekanisme partisipasi masyarakat.

Jumlah dari keseluruhan pembangunan USB ( Unit Sekolah Baru ) adalah unit SMP Negeri dan masing-masing 6 lokal/kelas baru. Dengan sumber dana dari direktorat PSMP yang totalnya mencapai Rp.1.254.803.00 ( Untuk 1 USB ) dan masing-masing satu USB satu konsultan.

Delapan pembangunan USB tersebut meliputi :

  1. SMP N 2 Pangenan
  2. SMP N 2 Plered yang berlokasi di desa Pangkalan.
  3. SMP N 2 Mundu yang berlokasi di desa pamengkang.
  4. SMP N 2 Depok dengan lokasi di Waru Kawung
  5. SMP N 2 Pekantingan
  6. SMP N 2 Suranenggala
  7. SMP N 2 Sedong
  8. SMP N 2 Klangenan

PUSB Kabupaten Cirebon rata-rata telah mencapai 30 % dan semuanya memenuhi standar, kecuali USB SMP N 2 Pekantingan yang tidak memenuhi syarat pasalnya memakai BATU PUTIH.

Tim monitoring USB tersebut dari Iw.Suherna kasi bangunan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang kabupaten Cirebon, Achmad Saputra, UPT Cipta Karya dan Edi Kurniadi,S.sos.,MM dari Kasi Sarana dan Prasarana Dinas pendidikan Kabupaten Cirebon.

Tetapi ketika tim investigasi kami dari FAKTA dengan metode survey dan observasi dilapangan kepada stakeholder salah satunya di SMP N 2 Depok justeru yang terjadi adalah pelaksanaan tersebut Kuwu daerah setempat tidak memiliki Juklak maupun Juknis tentang USB.sedangkan pembangunan ini berdasarkan swakelola dan setiap tahunya pemerintah menggunakan tanah titisara dengan system kontrak,yang menjadi PAD desa sehingga pembangunan ini menyalahi aturan ,mengingat pembangunan sudah berjalan tetapi belum bayar sewa.sedangkan berdasarkan Juknis tanah tersebut harus menjadi hak milik dengan sertifikat yang ditanggung oleh pemerintah setempat,dalam hal ini pemerintah kabupaten Cirebon.

Fungsi pengawas disini seperti ewuh pakewuh atau sungkanisme untuk melakukan tugasnya berdasarkan aturan yang berlaku dan kesepakatan antara Dinas Pendidikan dan para Kuwu

Sedangkan apabila Bertanya mengenai hakekat pendidikan adalah bertanya mengenai pendidikan itu ? Usaha utnuk memberikan jawaban terhadap apakah pendidikan itu telah memenuhi khazanah ilmu pengetahuan yang disebut ilmu pendidikan.

Dari beberapa definisi yang muncul mengenai apakah hakekat pendidikan itu dapat dikategorikan dalam dua pendekatan yaiti pendekatan epistemologis dan pendekatan ontology atau metafisik.

PENDIDIKAN adalah tanggung jawab bersama. Setiap kita bertanggung jawab terhadap pendidikan bangsa ini. Tidak hanya bagi mereka yang terjun di lembaga pendidikan formal seperti guru, dosen dan sebagainya, tapi semuanya. Pemahaman ini yang harus tertanam terlebih dahulu.

Pendidikan tidak sama dengan sekolah. Cakupannya luas tak terbatas .Sekolah hanya satu bagian kecil dari sarana pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan tidak hanya terpaku pada transfer materi dari guru ke murid. Pendidikan harus utuh dan menyeluruh, meliputi semua aspek dalam kehidupan.

Seperti yang kita ketahui bahwa model pembangunan sekolah semacam ini (swakelola) menjadi model pembanguan sekolah yang dananya berasal dari pemerintah pusat (Depdiknas), dimana pemerintah pusat menanggung sebagian besar pendanaan, sedangkan pemerintah Kabupaten/Kota (atau sekolah) menyediakan dana pendamping yang berkisar 10%. Nyaris semua dana untuk sekolah dikucurkan langsung ke rekening sekolah. Program swakelola ini memangkas rantai birokrasi secara signifikan.

Ketika USB dalam pelaksanaanya saja yang merupakan salah satu fasilitas sarana dan prasarana pendidikan sekolah terdapat kejanggalan bagaimana selanjutnya.

Mau di bawa kemana Pendidikan Kita ini….????

Kamis, 14 Januari 2010

Re-Akreditasi jurusan bahasa inggris Unswagati Cirebon

Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati), Fakultas Keguruan yang memiliki jumlah jurusan terbanyak antaranya Bahasa Inggris telah mendapatkan hasil re-akreditasi dengan hasil yang sama seperti tahun sebelumnya, dengan nilai akreditasi C. Dalam hal ini Jurusan pertama yang mendapatkan proses re-akreditasi.

Menurut Drs. H. A. Ghazali Nurkalam selaku Ketua Jurusan mengungkapkan “Proses untuk re-akresitasi telah dilakukan sekitar bulan Juni, Tidak ada kendala dalam proses tersebut, hanya prosesnya yang lumayan cukup lama. Dan mendapatkan akreditasi C, sama seperti sebelumnya.

Ghazali juga menambahkan, untuk kedepannya Jurusan Bahasa Inggris berencana akan pindah ke tempat baru yang sedang dibangun, karena Bahasa Inggris merupakan jurusan yang banyak diminati, untuk sekarang saja ada 37 rombongan belajar.

IpuL salah mahasiswa jurusan Bahasa Inggris mengungkapkan “saya dia tidak mengetahui nilai re-akreditasi telah keluar. saya hanya mengetahui nilai akdreditasi sebelumnya yang sudah terpampang jelas di plang depan kampus.

STAIN Cirebon berubah status

STAIN Cirebon: menjadi IAIN Syeh Nurjati

Kenapa Bukan UIN Cirebon?

BELUM tersedianya perguruan tinggi yang representatif di Cirebon, yang dapat menampung minat dan prestasi lulusan SLTA, hampir terus jadi perbincangan. Setiap akhir tahun ajaran pendidikan, ribuan alumni SLTA Cirebon menyerbu kota-kota besar bagi keperluan pendidikan tinggi. Jakarta, Bandung, Purwokerto, dan Yogyakarta cukup pavorit dijadikan pijak harapan masa depan alumni SLTA Cirebon. Mereka mengais pendidikan tinggi jauh dari orang tuanya lantaran di kotanya belum tersedia PTN yang dianggap representatif. Mengapa demikian?

Aspek yang pada gilirannya merebak ke aspek lain sebagaimana pertumbuhan daerah baru dengan kesibukan aktivitasnya. Tak disanngkal lagi pertumbuhan dunia pendidikan ke arah yang lebih maju merupakan dambaan seluruh warga, karena berbekal pengetahuan yang dilandasi etika agama, insya allah akan menjadikan generasi muda yang bertanggung jawab atas keilmuannya.

Persoalan yang mengemuka sekarang adalah keinginan politik pemerintah daerah untuk segera merealisikan keinginan pengelola STAIN Cirebon berubah menjadi IAIN, syukur jika UIN. Sebuah universitas negeri di Kota Cirebon yang kelak mempermudah masyarakat Cirebon dan sekitarnya menempuh pendidikan tinggi. Di tempat yang tidak jauh dari orang tua dan kerabatnya. Bukan lantaran tidak setuju kuliah jauh, akan tetapi institut negeri apalagi universitas negeri, yang berjarak dekat jelas lebih efisien dalam segala hal dibanding kuliah di luar kota atau luar propinsi.

Keinginan politik pemerintah daerah setempat, terlebih jajaran diknas dan depag diharapkan mampu mempercepat proses perubahan status IAIN Cirebon. Logika sederhananya, jika sekolah tinggi swasta saja bisa berubah menjadi universitas mengapa sekolah tinggi negeri yang menginginkan hal serupa; sepertinya mesti terseok-seok?

Senin, 04 Januari 2010

Kejanggalan DAK Bidang Pendidikan

Pelaksana Dana Alokasi Khusus ( DAK ) di bidang Pendidikan selalu muncul permasalahan yang sepertinya jadi objek langganan permainan oknum pejabat dan panitia pelaksana DAK.Program yang digulirkan oleh pemerintah itu adalah salah satu program yang bertujuan untuk meningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Maka sudah sewajarnya masyarakat tahu semua yang diberikan dari program DAK untuk pendidikan ini sudah sesuai dengan ketentuannya ( Juklak dan Juknis yang telah ditetapkan)
Forum Mahasiswa Kajian Strategis dan Aksi ( FAKTA ) Cirebon sebagai organisasi Mahasiswa yang merupakan bagian dari masyarakat yang berhak mengawasi / memonitoring sesuai dengan acuan Permendiknas No.3 tahun 2009 tanggal 29 Januari 2009 tentang pedoman petunjuk anggaran 2009, bahwa tujuan dan manfaat pelaksanaan DAK Pendidikan adalah untuk mendorong dan memajukan dunia pendidikan, agar program DAK bias terealisasi dengan tepat maka dari itu perlu adanya pengawasan langsung oleh masyarakat.
Sungguh ironis ketika ada beberapa sekolah di kabupaten Cirebon selama 2 tahun tidak memiliki meubeler, seperti di SDN 2 Gebang Mekar kabupaten Cirebon yang sudah selayaknya semua kebutuhan dipenuhi oleh pemerintah daerah kabupaten Cirebon yang dalam hal ini Dinas pendidikan Kabupaten Cirebon karena siswa belajar dilantai selama 2 tahun, sungguh sangat memprihatinkan karena terhitung sejak tahun 2007, artinya ini merupakan tindakan yang sarat akan KKN dalam Program DAK.Masih banyak masalah lagi yang terjadi di dinas pendidikan kabupaten Cirebon yang dalam kajian khusus kami dari FAKTA belum semuanya di tulis disini dan membutuhkan tindak lanjut.Ini bukan permasalahan kecil, karena pendidikan merupakan Aspek yang penting untuk diprioritaskan. Maka melalui kajian ini kami menantikan adanya pengusutan dan penindakan secara tuntas dan tegas dari pihak berwenang, Panitia pelaksana DAK beserta unsur-unsur yang terlibat lainya yang diduga telah menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, karena p[ada tanggal 10 November 2009 lalu kami sudah melakukan aksi unjuk rasa di dinas pendidikan kabupaten Cirebon dan pelaporan ke kejaksaan negeri sumber kabupaten Cirebon. Kami berharap adanya keadilan dalam upaya penegakkan supremasi hukum.

Rabu, 30 Desember 2009

FAKTA Peduli Pendidikan Ibu-Ibu dan Anak

Usia boleh saja sudah senja. Namun, semangat tetap harus dipupuk terus seperti layaknya anak-anak muda.seperti halnya antusias warga Gebang Mekar Kabupaten Cirebon yang mengikuti Pendidikan Buta Aksara yang diselenggarakan oleh FAKTA ( Forum Mahasiswa Kajian Strategis dan Aksi ) CIREBON beberapa minggu lalu sepanjang bulan Oktober dan November dalam Format FAKTA peduli pendidikan dimana para peserta kebanyakan dari Ibu-Ibu dan anak –anak.

Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung.

Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.

“Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.

Adapun pengabdian kepada masyarakat ini yang merupakan hasil kajian khusus dari FAKTA ( Forum Mahasiswa Kajian Strategis dan Aksi ) Cirebon yang kemudian mengaktualisasikannya dengan TUJUAN :

  1. Memacu pembangunan masyarakat dengan meningkatkan kemampuan dan kemandirian ;
  2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pembelajaran ;
  3. Menerapkan hasil kajian FAKTA sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
  4. Memperoleh masukan bagi peningkatan mutu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat
  5. Menjadi wahana keunggulan posisi bagi FAKTA dalam masyarakat.
  6. Peningkatan kapasitas dan kualitas manajemen pengabdian kepada masyarakat melalui penataan peran dan fungsi organisasi dan manajemen yang lebih baik.
  7. Meningkatkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat atas dasar tanggungjawab sosial.
  8. Melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan hasil-hasil kajian khusus dan penelitian untuk menyelesaikan masalah-masalah aktual di masyarakat.

FAKTA Peduli Pendidikan Ibu-Ibu dan Anak-Anak

Usia boleh saja sudah senja. Namun, semangat tetap harus dipupuk terus seperti layaknya anak-anak muda.seperti halnya antusias warga Gebang Mekar Kabupaten Cirebon yang mengikuti Pendidikan Buta Aksara yang diselenggarakan oleh FAKTA ( Forum Mahasiswa Kajian Strategis dan Aksi ) beberapa minggu lalu sepanjang bulan Oktober dan November dalam Format FAKTA peduli pendidikan dimana para peserta kebanyakan dari Ibu-Ibu dan anak –anak.

Alangkah pentingnya kita berteori dalam praktek di lapangan pendidikan karena pendidikan dalam praktek harus dipertanggungjawabkan. Tanpa teori dalam arti seperangkat alasan dan rasional yang konsisten dan saling berhubungan maka tindakan-tindakan dalam pendidikan hanya didasarkan atas alasan-alasan yang kebetulan, seketika dan aji mumpung.

Hal itu tidak boleh terjadi karena setiap tindakan pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional serta intelektual juga terjalin oleh alasan yang bersifat moral. Sebabnya ialah karena unsur manusia yang dididik dan memerlukan pendidikan adalah makhluk manusia yang harus menghayati nilai-nilai agar mampu mendalami nilai-nilai dan menata perilaku serta pribadi sesuai dengan harkat nilai-nilai yang dihayati itu.

“Praktek tanpa teori adalah untuk orang idiot dan gila, sedangkan teori praktek hanya untuk orang-orang jenius”.

Adapun pengabdian kepada masyarakat ini yang merupakan hasil kajian khusus dari FAKTA ( Forum Mahasiswa Kajian Strategis dan Aksi ) Cirebon yang kemudian mengaktualisasikannya dengan TUJUAN :

  1. Memacu pembangunan masyarakat dengan meningkatkan kemampuan dan kemandirian ;
  2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pembelajaran ;
  3. Menerapkan hasil kajian FAKTA sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
  4. Memperoleh masukan bagi peningkatan mutu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat
  5. Menjadi wahana keunggulan posisi bagi FAKTA dalam masyarakat.
  6. Peningkatan kapasitas dan kualitas manajemen pengabdian kepada masyarakat melalui penataan peran dan fungsi organisasi dan manajemen yang lebih baik.
  7. Meningkatkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat atas dasar tanggungjawab sosial.
  8. Melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan hasil-hasil kajian khusus dan penelitian untuk menyelesaikan masalah-masalah aktual di masyarakat.
F A K T A (FORUM MAHASISWA KAJIAN STRATEGIS dan AKSI)Cirebon